Lebih Banyak Perempuan Yang Kelapran Dibandingkan Pria, Terjadi Ketimpangan Gender di Dunia

Perempuan delapan kali lebih banyak mengalami kekurangan pangan dibanding laki-laki, simak penjelasanya!

Annisa Maya Kusuma Astuti
Sabtu, 06 Agustus 2022 | 10:15 WIB
Lebih Banyak Perempuan Yang Kelapran Dibandingkan Pria, Terjadi Ketimpangan Gender di Dunia
Ilustrasi pertanian. (freepik//wirestock)

Poptren.suara.com - CARE Internasional, sebuah organisasi internasional meluncurkan laporan terbaru yang menyebutkan bahwa dibanding tahun 2018, kini perempuan delapan kali lebih banyak mengalami kekurangan pangan dibanding laki-laki atau 150 juta lebih banyak.

Terdiri dari berbagai faktor seperti pandemi, perubahan cuaca, serta perang di Ukraina menjadi penyebab kekurangan pasokan makanan di dunia yang mempengaruhi banyak orang.

Seiring dengan kenaikan harga bahan pokok makanan di seluruh dunia, perempuan seperti Deeba dari Afghanistan semakin sulit mencukupi kebutuhan keluarganya.

"Saya adalah kepala rumah tangga besar. Saya seorang guru. Kami hidup dengan gaji sekitar Rp640 ribu sampai Rp800 ribu sebulan namun kami hidup dengan masalah besar," katanya kepada LSM Kemanusiaan,0 CARE Internasional.

Baca Juga:Beberapa Tips Menjadi Wisatawan yang Baik

Menurutnya harga kebutuhan pokok makanan seperti tepung, beras dan minyak sudah naik hampir dua kali lipat sehingga semakin tidak terjangkau baginya.

"Sebelumnya satu kantong tepung harganya sekitar Rp270 ribu sampai Rp280 ribu, sekarang harganya Rp400 ribu," katanya.

"Warga tidak bisa membeli tepung, beras dan minyak. Saya juga miskin dan saya tidak bisa membelinya.'

Sebuah laporan terbaru dari CARE Internasional yang dikeluarkan hari Kamis (04/08) menyebutkan, perempuan 150 juta lebih banyak mengalami ketidakamanan pangan dibandingkan pria pada tahun 2021.

Disebutkan bahwa ketimpangan antara pria dan wanita delapan kali lebih besar dibandingkan tahun 2018 di mana ketika itu hanya ada 18 juta perempuan yang kesulitan akses pangan dibandingkan pria.

Baca Juga:General Adaptation Syndrome atau GAS dan Tahapannya

Laporan terbaru mengatakan ketimpangan gender yang tinggi berhubungan langsung dengan kerawanan pangan. [Reuters: Nusaibah Almuaalemi]

Laporan itu didasarkan pada data yang ada dan kecenderungan global serta dibandingkan dengan data kesetaraan gender dan data keamanan pangan.

Direktur Eksekutif CARE Australia, Peter Walton, mengatakan situasi keamanan pangan yang memburuk ini disebabkan karena pandemi COVID-19, perubahan iklim dan perang di Ukraina.

Perang di Ukraina salah satu penyebab dari masalah pengiriman bahan makanan ke seluruh dunia.

Menurut Program Pangan Dunia, Rusia dan Ukraina menguasai 30 persen pasar ekspor gandum, dan 20 persen pasar ekspor tepung jagung.

Peter Walton mengatakan masalah kerawanan pangan tersebut konsisten di seluruh dunia, termasuk di Australia, di mana perempuan lebih rentan mengalami kelaparan dibandingkan pria.

"Secara khusus, ini lebih mengkhawatirkan untuk perempuan orangtua tunggal dan perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga," katanya.

"Ini masalah global dan tentu saja Australia juga mengalami hal yang sama juga."

Laporan yang berjudul — Keamanan Pangan dan Kesetaraan Gender- menemukan bahwa bahkan bila pria dan wanita ada dalam situasi kekurangan pangan, pria masih bisa mendapatkan porsi yang lebih kecil sementara perempuan tidak mendapatkan makanan sama sekali.

Bule dari Vanuatu mengatakan peran berdasarkan gender sudah berubah di komunitasnya. [Supplied: Care International/Georgina Ishmael]

Sebagai contoh di Lebanon, 85 persen perempuan mengkonsumsi porsi yang lebih kecil dibandingkan 57 persen pria di awal pandemi COVID-19.

Perempuan yang tidak memiliki penghasilan dan tidak mendapatkan bantuan dari laki-laki dalam urusan rumah tangga, lebih besar kemungkinannya mengalami kerawanan pangan dan makanan yang tidak sehat.

Laporan CARE juga menemukan bahwa ketimpangan gender bertalian erat dengan kerawanan pangan.

Di mana terjadi peningkatan ketimpangan gender maka kerawanan pangan juga meningkat.

Negara dengan tingkat ketimpangan gender yang tinggi seperti Yaman, Sierra Leone dan Chad — mengalami tingkat keamanan pangan dan gizi paling rendah menurut laporan tersebut.

Perempuan yang bekerja mengurangi tingkat kerawanan pangan
Laporan tersebut menyebutkan perempuan yang bekerja atau memiliki penghasilan atau langsung terlibat dalam kegiatan pertanian untuk mencukupi diri sendiri lebih kecil kemungkinannya mengalami kerawanan pangan.

Bule, seorang petani dari Vanuatu, mengatakan kepada CARE bahwa dia mendapatkan penghasilan dengan bercocok tanam untuk dijual ke pasar setempat dan norma gender sudah berubah dalam komunitasnya.

Dia bekerja bersama dengan perempuan lain berbagi ide mengenai bagaimana mempertahankan produksi makanan dalam situasi ancaman cuaca yang bisa menghancurkan produksi mereka.

"Ketika terjadi hujan lebat, air membanjiri tanah kami. Ini menyulitkan kami karena tanaman menjadi busuk dalam air dan kami tidak memiliki apa-apa untuk dimakan," katanya.

Ilustrasi pertanian

"Menanam di daerah perbukitan adalah tempat terbaik karena air akan turun dari dataran tinggi ke kali ketika terjadi hujan lebat. Bercocok tanam di tanah yang datar sangat buruk. Ini seperti kita harus menyelam ketika memanen tanaman.

Bule mengatakan dalam komunitasnya pria yang biasanya menjadi kepala rumah tangga sekarang sudah berubah, dan 'anak-anak, bapak dan ibu sekarang semua sama'.

"Tidak seorang pun lebih tinggi kedudukannya dibandingkan yang lain."

Laporan CARE menyebutkan di dalam rumah tangga yang perempuannya bekerja 11 persen lebih kecil kemungkinannya mengalami masalah kerawanan pangan.

Perempuan yang bisa menambah penghasilan rumah tangga juga bisa meningkatkan  kesehatan anak-anak dan mengurangi kekurangan gizi.

Namun faktor yang paling penting yang harus dicapai saat ini adalah pendidikan bagi perempuan.

Peter Walton mengatakan pemerintah Australia sudah berkomitmen mengeluarkan dana Rp1,5 T untuk memerangi krisis pangan dengan mendukung program dengan sasaran perempuan dan remaja putri.

"Kita tidak seharusnya berbicara mengenai kelaparan di tahun 2022," katanya.

Sumber : Suara.com

Reading

Terkini

Bakat musiknya diakui semakin terasah, Mayang panen apresiasi dari warganet.

Screen | 16:20 WIB

Ganda Putra Bulutangkis Indonesia semakin memaksimalkan persiapan jelang Kejuaraan Dunia 2022

Screen | 16:13 WIB

Video itu direkam oleh Bobon Santoso, Youtuber asal Bali.

Screen | 16:08 WIB

BLACKPINK mengumumkan bahwa mereka masuk dalam lineup penampilan untuk MTV Video Music Awards 2022.

Screen | 15:51 WIB

Mona Ratuliu bersama suaminya menjelaskan kronologi dan alasan sang anak merasa depresi.

Screen | 15:30 WIB

Jeffry Nichol Selama Ini diketahui menganggap apra fans adalah keluarganya.

Screen | 15:20 WIB

Pasangan FajRi menanggapi dengan santai tentang anggapan lebih berpeluang juara dari Minions dan The Daddies

Screen | 15:16 WIB

Anies jadi salah satu kandidat kuat calon Presiden yang kemungkinan akan diusung PKS.

Screen | 15:00 WIB

Berhenti sebagai anggota DPR RI, kini muncul keinginan Anang Hermansyah kembali ke parlemen.

Screen | 14:44 WIB

Fajar/Rian Vs Hoki/Kobayasi jelang Kejuaraan Dunia 2022

Screen | 14:06 WIB

Siapa sebenarnya sosok special guest MasterChef ini?

Tech | 13:38 WIB

Karena mental merupakan bagian dari diri kita yang bisa menerima keadaan seperti apa saja.

Reading | 13:19 WIB

Dengan harum dan warna cokelat yang khas, menu satu ini selalu punya tempat di hati penikmatnya. Simak resepnya dibawah ini

Reading | 13:15 WIB

Adik Aurel Hermansyah itu sukses membawa pulang medali dari World Championship of Performing Arts (WCOPA) yang diselenggarakan di Anaheimm.

Screen | 12:55 WIB

Hotman Paris menawarkan bantuan hukum kepada RF

Reading | 12:49 WIB
Tampilkan lebih banyak